Selamat Datang di Ungkapan Semesta Selamat Datang di Ungkapan Semesta Selamat Datang di Ungkapan Semesta Selamat Datang di Ungkapan Semesta Selamat Datang di Ungkapan Semesta

Kamis, 01 Januari 2015

Suku Pedalaman Baduy


 
Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy. Suku Baduy mendiami kawasan Pegunungan Keundeng, tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Masyarakat Baduy memiliki tanah adat kurang lebih sekitar 5.108 hektar yang terletak di Pegunungan Keundeng. Mereka memiliki prinsip hidup cinta damai, tidak mau berkonflik dan taat pada tradisi lama serta hukum adat. Kadang kala suku Baduy juga menyebut dirinya sebagai orang Kanekes, karena berada di Desa Kanekes. Mereka berada di wilayah Kecamatan Leuwidamar. Perkampungan mereka berada di sekitar aliran sungai Ciujung dan Cikanekes di Pegunungan Keundeng. Atau sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta dan 65 km sebelah selatan ibu kota Serang. Masyarakat suku Baduy sendiri terbagi dalam dua kelompok.

Kelompok terbesar disebut dengan Baduy Luar atau Urang Panamping yang tinggal disebelah utara Kanekes. Mereka berjumlah sekitar 7 ribuan yang menempati 28 kampung dan 8 anak kampung. Sementara di bagian selatannya dihuni masyarakat Baduy Dalam atau Urang Tangtu. Diperkirakan mereka berjumlah 800an orang yang tersebar di Kampung Cikeusik, Cibeo dan Cikartawana. Kedua kelompok ini memang memiliki ciri yang beda. Bila Baduy Dalam menyebut Baduy Luar dengan sebutan Urang Kaluaran, sebaliknya Badui Luar menyebut Badui Dalam dengan panggilan Urang Girang atau Urang Kejeroan. Ciri lainnya, pakaian yang biasa dikenakan Baduy Dalam lebih didominasi berwarna putih-putih. Sedangkan, Baduy Luar lebih banyak mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala bercorak batik warna biru. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar.




Mereka secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang. Selain itu mereka menjual hasil kerajinan seperti Koja dan Jarog(tas yang terbuat dari kulit kayu), tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung, golok, parang dan berburu. Masyarakat Baduy sangat taat pada pimpinan yang tertinggi yang disebut Puun. Puun ini bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan kehidupan masyarakat yang menganut ajaran Sunda Wiwitan peninggalan nenek moyangnya. Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun, yang tidak boleh meninggalkan kampungnya. Pucuk pimpinan adat dipimpin oleh Puun Tri Tunggal, yaitu Puun Sadi di Kampung Cikeusik, Puun Janteu di Kampung Cibeo dan Puun Kiteu di Cikartawana. Sedangkan wakilnya pimpinan adat ini disebut Jaro Tangtu yang berfungsi sebagai juru bicara dengan pemerintahan desa, pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Di Baduy Luar sendiri mengenal sistem pemerintahan kepala desa yang disebut Jaro Pamerentah yang dibantu Jaro Tanggungan, Tanggungan dan Baris Kokolot.

Keberadaan masyarakat Baduy sendiri sering dikaitkan dengan Kerajaan Sunda (Pajajaran) di abad 15 dan 16. Saat itu, kerajaan Pajajaran yang berlokasi di Bogor memiliki pelabuhan dagang besar di Banten, termasuk alamnya perlu diamankan. Nah, tugas pengamanan ini dilakukan oleh pasukan khusus untuk mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan ini yang diyakini sebagai cikal bakal suku Baduy. Ada pula yang mempercayai awal kebedaraan suku Baduy, merupakan sisa-sisa pasukan Pajajaran yang setia pada Prabu Siliwangi. Mereka melarikan diri dari kejaran pasukan Sultan Banten dan Cirebon. Namun pada akhirnya, mereka dilindungi Kesultanan Banten dan diberi otonomi khusus.

Baduy Bukan Suku Terasing
Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan RI, setiap akhir tahun suku yang berjumlah 7.512 jiwa dan tersebar dalam 67 kampung ini mengadakan upacara Seba kepada “Bapak Gede” (Panggilan Kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar.

Pemukiman masyarakat Baduy berada di daerah perbukitan. Tempat yang paling rendah berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sehingga dapat dibayangkan bahwa rimba raya di sekitar pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan sumber mata air yang masih bebas polusi.

Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. Semak belukar yang hijau disekitarnya turut mewarnai keindahan serta kesejukan suasana yang tenang. Keheningan dan kedamaian kehidupan yang bersahaja.

Indahnya Baduy
Kabupaten Lebak , disebelah utara berbatasan den gan Kabupaten Serang dan Tangerang, sebelah barat dengan Kabupaten Pandeglang, sebelah timur dengan Kabupaten Bogor dan Sukabumi dan sebelah selatan dengan Samudra Indonesia..

suku baduy rumah adat

Keberadaan suku Baduy di wilayah ini merupakan daya tarik tersendiri. Suku yang bermukim di areal seluas 5.101 ha di Desa Kanekes, Leuwidamar atau sekitar 38 km dari Rangkasbitung, kota kabupaten Lebak. Untuk menuju kawasan itu dapat menggunakan mobil dengan waktu tempuh 1,5 jam dari Rangkasbitung ke Ciboleger, pintu gerbang Kanekes.

Ketaatan Suku Baduy Terhadap Adat Mereka
Mereka mandiri, menolak bantuan luar, merajut, bertanam dan berpikir ke depan dengan otak jernih, jujur dan tulus. Tidak ada keributan sesama mereka di sana. Tak ada saling iri, dengki dan culas di tengah mereka. Suku Baduy adalah kelompok kehidupan yang begitu patuh pada adat, ritual dan agama yang mereka anut. Nama masyarakat Baduy sebenarnya adalah URANG KENEKES. Mereka adalah suku bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di Pegunungan Kendeng Kabupaten Lebak (Jawa Barat). Nama Baduy sendiri diambil dari nama sungai yang melewati wilayah itu yaitu Sungai Cibaduy.

Mereka adalah keturunan Raja Pajajaran yang menolak agama baru yang masuk dibawa oleh Sunan Gunung Jati di abad 15 dan 16 yaitu agama Islam. Untuk menghindari perang, para punggawa dan senopati Pajajaran yang menolak Sunan Gunung Jati masuk hutan. Mereka memilih daerah perbukitan di kaki gunung Sanggabuana, 1000 mdpl di Banten Selatan. Mereka menolak masuk Islam dan menolak jadi pengikut Sunan Gunung Jati. Di sana mereka terus mengembangkan agama lama mereka di dalam belantara yang sulit diterobos.

Orang Baduy pertama-tama memuja lelembut, yaitu roh halus, roh gaib yang dianggap sebagai nenek moyang pemberi hidup dan mati. Roh itu adalah yang menjiwai segala-galanya. Sebagai pemegang kekuasaan tunggal yang disebut Batara Tunggal. Tempat kediaman lelembut adalah di dekat mata air sungai Ciujung dan Sungai Cisemet. Tempat keramat tersebut dipuja-puja dan dinamakan Arca Domas. Tempat pemujaan ini hingga sekarang sangat terlarang bagi orang luar.
Orang Baduy hidupnya sangat terisolasi dan jauh dari pergaulan umum. Hanya pada waktu-waktu mendesak dan sangat terpaksa barulah mereka keluar wilayah. Itupun dilakukan dengan sangat segan. Para wanita dan anak-anak tidak diperkenankan oleh adat untuk ke luar daerah Baduy. Pemimpin pemerintahan dan keagamaan disebut Girang Pu’un yang sangat ditakuti. Selain disegani karena kewibawaan dan kharismanya, tapi juga dihormati karena dianggap sebagai orang sakti madraguna. Girang Pu’un bisa mengobati segala macam penyakit dan mampu menyelesaikan persoalan seberat apapun. Komandonya adalah garis tegas yang tak boleh terbelokkan oleh siapapun. Tapi dia adalah pemimpin yang adil, bijak dan bestari.

Suku Baduy dibagi dua kelompok, yaitu Urang Kejeroan dan Urang Panamping. Urang Kejeroan adalah Baduy Dalam, mereka yang menempati tanah keramat di daerah Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Sedangkan Urang Panamping adalah Baduy yang menempati di luar tanah keramat yaitu di daerah Ciboleger dan Kaduketer, dan mereka dianggap Baduy yang derajatnya lebih rendah yang disebabkan melanggar aturan-aturan adat.

Peraturan menetapkan, bahwa di tanah keramat itu selalu harus berdiam 40 kepala keluarga. Jika lebih, kelebihannya itu disuruh ke luar, yaitu menjadi warga Baduy Luar. Baduy Luar hingga sekarang sebagai penghubung antara masyarakat Baduy Dalam dengan dunia luar. Di sana ada Jaro semacam kepala urusan birokrasi bagi orang luar yang akan masuk Baduy Dalam dan bertemu Girang Pu’un. Hingga sekarang banyak larangan dan pantangan yang jadi aturan hidup warga Baduy. Mereka dilarang naik kuda, sepeda, apalagi menggunakan kendaraan bermesin. Dilarang tidur di atas tempat tidur, dilarang tulis menulis dan berpakaian mewah. Mereka diwajibkan berpakaian yang dibuat sendiri dari kapas. Pakaian warna putih-putih hanya untuk Baduy Dalam dan warna hitam-hitam untuk Baduy Luar. Pakaian yang digunakan tidak boleh dijahit mesin, tidak boleh berkancing dan tidak boleh ada sakunya. Saku untuk barang-barang mereka adalah kantung kain yang dibikin tali dan digatungkan di bahu.

Pencurian adalah dosa besar bagi Baduy. Kalau sampai terjadi maka Girang Pu’un akan memberikan hukuman berat. Rasa malu yang tinggi di tengah masyarakat Baduy membuat mereka hati-hati berbuat salah. Rasa malu yang tinggi itu pula yang membuat mental mereka begitu baik, bermoral baik, bekerja keras dan pantang menyerah.

Pada tahun 1986 lalu, dengan jalan 100 Km melewati rel kereta api Lebak-Jakarta, beberapa orang Baduy menemui Presiden Soeharto. Presiden menerima dengan baik puluhan warga Baduy Luar dan Baduy Dalam di istana negara dan membicarakan masa depan lingkungan mereka. Warga Baduy waktu itu menggambarkan pada Presiden bahwa daerah warisan leluhur mereka berbentuk tanah seluas 5000-an hektar di Kabupaten Lebak. Soeharto mengeluarkan inpres khusus untuk itu, yang maksudnya agar wilayah Baduy jangan diganggu gugat oleh siapapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar