26 desember 2014, anak laki-laki 13 taun berinisial ‘I N’ kelas
7 smp menjadi korban bullyan sekelompok temannya di sebuah SMP Pesantren di
daerah Kab.Bandung (Jatinangor). Akibat dari kejadian itu, anak tersebut
menjadi trauma tidak ingin bersekolah lagi dan merasa takut mempunyai teman.
Berdasarkan dari informasi yang diterima, pihak pesantren
dan teman-teman nya yang menyaksikan menyebutkan dan menjelaskan kronologi
kejadian tersebut berawal dari korban sedang bermain dengan salah satu temannya
lemparan lemparan sarung di depan kelas sekitar pukul 14.00 WIB dan tidak
sengaja si korban melempar sarung mengenai kaki temannya yang lain ( ‘D’ si
pelaku pembullyan), temannya itu marah padahal si korban sudah meminta maaf
karena tidak sengaja melakukannya.
Setelah itu karena tidak menerima perbuatan si korban, si
pelaku menggiring korban kesebuah gudang sempit tanpa pentilasi yang berada di
bawah tangga sekolah. Dan si korban di paksa untuk masuk ke gudang tersebut dan
menguncinya dari luar. Sebelum mengunci gudang tersebut si pelaku bersama geng
nya mendorong dan meludahi wajah si korban dan akhirnya di kunci sekitar 1 jam
lamanya.
Ada salah satu teman korban yang melapor kepada guru wali
kelas si korban. Pada sekitar pukul 15.00 WIB si pelaku oleh gurunya disuruh
untuk membuka pintu gudang tersebut, setelah terbuka si korban di temukan
pingsan dan di angkat ke asrama pesantrennya. Di dalam asrama tersebut
kebetulan ada orang tua yang sedang menjenguk anaknya, karena melihat kondisi
korban sangat lemas salah satu orang tua murid tersebut menelpon ibu korban dan
datang ke pesantren untuk membawa anak nya pulang.
Setelah kejadian tersebut pihak sekolah menindak lanjuti
dengan mendatangkan orang tua korban dan orang tua pelaku untuk menyelesaikan
masalah tersebut hingga tuntas. Sampai pada akhirnya si pelaku di keluarkan
dari pesantren tersebut karena telah banyak dan sering melakukan kesalahan yang
tidak bisa di toleransi lagi.
Sebagai tambahan informasi, sebelumnya memang si korban
ini sering di bully si pelaku dan geng nya. Setelah si pelaku di keluarkan dari
pesantren juga teman se geng nya tersebut sempat menendang perut si korban dan
sering mengganggu.
Akibat kejadian ini si korban menjadi takut untuk kembali
ber pesantren dan bersekolah di tempat tersebut karena trauma yang cukup berat,
dan di dalam pesantren pun tak menjamin membuat anak menjadi nyaman, perlu ada
pengawasan yang lebih ketat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar