Selamat Datang di Ungkapan Semesta Selamat Datang di Ungkapan Semesta Selamat Datang di Ungkapan Semesta Selamat Datang di Ungkapan Semesta Selamat Datang di Ungkapan Semesta

Sabtu, 03 Januari 2015

Reak: Pendidikan Budaya Yang Memudar


Reak adalah salah satu kesenian rakyat Jawa Barat, khususnya di sekitar Ujung Berung-Bandung, Cileunyi-Bandung, dan Sumedang [semua daerah ini berlokasi di Propinsi Jawa Barat, Indonesia). Umumnya, kesenian ini diselenggarakan oleh masyarakat, seperti Cileunyi dan Ujung Berung, pada acara Sunatan (Sunda; khitan), baik yang dikhitannya laki-laki maupun perempuan. Namun, umumnya, reak ditampilkan ketika khitanan laki-laki. Selain itu, reak pun sering ditampilkan dalam acara-acara syukuran panen atau acara yang terkait dengan peristiwa sejarah negara Indonesia, seperti 17 Agustus-an. Dalam skala kecil, reak pun dihadirkan pada acara pernikahan, ulang tahun, peringatan akil baligh [9 tahun, atau 13 tahun, atau 15 tahun], dan acara syukuran lainnya.
Kesenian ini berupa iring-iringan dengan seperangkat atau sekumpulan istrument etnik sunda (seperti suling, kendang, kentungan, calung, dll beberapa di antaranya sudah mengadaptasi instrumen musik modern), sinden (penyanyi), kuda lumping (kuda yang sudah dilatih untuk pertunjukkan), sisingaan (patung singa beserta penari), dan penari bertopeng.

Jumat, 02 Januari 2015

Pesan Cinta Pramugari Cantik AirAsia dari Ketinggian 38.000 Kaki

Pramugari lepas maskapai Air Asia QZ 8501 terbang dari Surabaya, Indonesia menuju Singapore sempat menuliskan pesan cinta pada kekasihnya dan ditempelkan ke jendela pesawat. Surat itu diunggah dan jadi foto terakhir di akun jejaring sosial Instagram milik dia.
Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Kamis (1/1), Khairunisa Haidar Fauzi, salah satu pramugari berada di pesawat nahas itu menuliskan pesan di tisu makan untuk kekasihnya Divo. “Aku mencintaimu dari ketinggian 11,5 kilometer,” demikian Khairunisa menuliskan.
Nisa menjadi salah satu dari tujuh korban kecelakaan Air Asia sudah diidentifikasikan. Pesawat ini hilang kontak saat terbang menuju Singapura dan ternyata kecelakaan serta tenggelam di Pangkalanbun, Kalimantan Tengah.

Kamis, 01 Januari 2015

Suku Pedalaman Baduy


 
Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy. Suku Baduy mendiami kawasan Pegunungan Keundeng, tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Masyarakat Baduy memiliki tanah adat kurang lebih sekitar 5.108 hektar yang terletak di Pegunungan Keundeng. Mereka memiliki prinsip hidup cinta damai, tidak mau berkonflik dan taat pada tradisi lama serta hukum adat. Kadang kala suku Baduy juga menyebut dirinya sebagai orang Kanekes, karena berada di Desa Kanekes. Mereka berada di wilayah Kecamatan Leuwidamar. Perkampungan mereka berada di sekitar aliran sungai Ciujung dan Cikanekes di Pegunungan Keundeng. Atau sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta dan 65 km sebelah selatan ibu kota Serang. Masyarakat suku Baduy sendiri terbagi dalam dua kelompok.

Kelompok terbesar disebut dengan Baduy Luar atau Urang Panamping yang tinggal disebelah utara Kanekes. Mereka berjumlah sekitar 7 ribuan yang menempati 28 kampung dan 8 anak kampung. Sementara di bagian selatannya dihuni masyarakat Baduy Dalam atau Urang Tangtu. Diperkirakan mereka berjumlah 800an orang yang tersebar di Kampung Cikeusik, Cibeo dan Cikartawana. Kedua kelompok ini memang memiliki ciri yang beda. Bila Baduy Dalam menyebut Baduy Luar dengan sebutan Urang Kaluaran, sebaliknya Badui Luar menyebut Badui Dalam dengan panggilan Urang Girang atau Urang Kejeroan. Ciri lainnya, pakaian yang biasa dikenakan Baduy Dalam lebih didominasi berwarna putih-putih. Sedangkan, Baduy Luar lebih banyak mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala bercorak batik warna biru. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar.

DENGAN RANGGINANG AKU HIDUP

   
Demi menghidupi seluruh keluarga besarnya, seorang ibu di cibiru, kab bandung bekerja seorang diri menjadi pembuat dan penjual rangginang. Nama ibu tersebut adalah Euis (49) yang bekerja keras memenuhi kebutuhan 4 anak, suami, orang tua ibu Euis sekaligus kakak dan adik ibu Euis.
Karena suaminya mempunyai penyakit struck dan akhirnya ibu Euis yang menjadi tulang punggung keluarga menggantikan suaminya dengan berfropesi menjadi pembuat rangginang yang telah di jalaninya selama 16 tahun.